Malam Itu
Di malam sunyi yang menghembuskan angin dingin, aku menggigil terbangun, meraba-raba tangan ini mencari sebuah selimut yang dapat menghangatkan tubuhku yang sedari tadi terus meringkih, tak bisa menahan kejamnya dingin di malam itu. Suara rintik hujan menambah kekhawatiranku, akan semakin menjadi-jadi dinginnya malam itu.
Semakin bergetar tubuhku, ku paksa bangunkan badan ini dan menggapai selimut hijau motif bunga, ku tutupi seluruh tubuhku, kaus kaki panjang bertuliskan nike juga menjadi teman hangatku. Dalam kepasrahan, putus asa menahan dinginnya malam muncul di dalam hati ini “saya harus kuat, harus kuat” sembari membayangkan wajah orang-orang yang ku sayangi dan aku terbaring lagi.
Entah kenapa, tubuhku mulai terasa hangat dan berkeringat, seperti mendapat energi yang kuat, tubuhku mulai terjaga seperti tidak ingin tertidur lagi. Tetapi aku masih berselimut hijau itu, dan berkaus kaki, memandangi langit-langit dan akhirnya mataku terpejam terkena panah sinar lampu yang menyengat, silau, mataku berkunang, dan terdengar suara: “.....kamu kenapa Di?” “Owalah....badanmu panas.” Sambung temanku itu sebelum aku sempat menjawabnya.
“Aku ambil air minum hangat dulu yo.” dengan nada khas Jawa-Solonya.“Iya, gue ambil termometer.” Timpal si Fajrin.
Riuh, panik, entahlah apa yang terjadi saat itu di kamar kami. Aku hanya memandangi langit-langit kamar terbaring lemah dengan setengah basah karena keringat.
Sementara itu Rian masih memijat-memijat telapak kakiku dan berkata “Sabar ya Di.. Jrin, buruan mana termometernya.” “Sabar dong.” Jawab Fajrin sambil mengobrak-abrik mengeluarkan isi tasnya.
Tak berapa lama si Supri datang tergopoh-gopoh membawa air teh hangat di tangannya “Bangun dulu sebentar Di, minum air teh ini pelan-pelan.” Perlahan aku terbangun dengan rasa sakit di kepala bagian belakangku yang tak lagi ku hiraukan, aku terduduk mencoba meminum air teh yang dibuatnya.
“Ini masih panas Supri...!” nada bicara ku sedikit tinggi tetapi dari sudut bibirku tersungging senyuman. “Owalah, iya toh...maaf maaf maaf.” “hahahaha....” pecah suasana di malam itu, di kamar ukuran sekitar 4 x 6 meter, dan aku masih tersenyum lemah melihat mereka tertawa sejenak melupakan ketegangan yang ku buat, dalam hati ini ku berkata “Di sini juga saya punya keluarga”.

Komentar
Posting Komentar